DOA & PENGHARAPANKU
Yaa Rabb...terkadang aq memikirkan..kapan saat itu akan datang padaku..tuk menggenapkan setengah dien Mu...tp yg pasti aq akan terus bersabar saat waktu terbaik n pasangan terbaik itu datang...tp kadang aq pun mengeluh...apa yg kurang dari diriqu Yaa Rabb..sehingga sampai saat ini pertanda itupun belum muncul...ada saat dmana harapan itu datang,,tp berakhir dengan hampa..hemm...smoga engkau memberikan aq kekuatan utk terus berserah atas kehendakMu yg sungguh indah di akhir penentian nantinya...bismillah
fantasiku
Terus, Terus dan Teruslah Bergerak seperti Gerak Air Yang Mengalir
Selasa, 03 Juli 2012
Sabtu, 11 Februari 2012
Manajemen Hati
Kata Baginda Rasululloh Muhammad SAW kepada sahabatnya Abu Bakar Ashiddiq, “La tahzan, Innalloha Ma’ana ; Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.“
Apabila Allah sudah bersama kita, maka ujian adalah kebaikan. Dari masalah yang timbul dalam kehidupan kita selayaknya kita terima dan syukuri atas bentuk ibadah kita kepada Allah sebagai rasa terima kasih karena kita telah menjadi hamba yang terpilih.
Kalau kita menjadi bagian dari hamba yang terpilih untuk mendapatkan ujian hidup haruskah kita berharap bantuan dari orang juga untuk sekedar mendapat partisipasi agar melihat kita timbul rasa prihatin ? Na’udzubillah!
Semua perintah dan larangan yang ditetapkan Allah adalah bagian dari nikmat-Nya buat manusia. Tujuannya semata–mata adalah untuk membuat manusia menjadi mulia disisi-Nya secara fitrah.“
Manusia yang mengingkari fitrahnya maka terasa jiwanya kering dan kosong. Manusia seperti itu akan selalu merasa haus dan haus oleh duniawi. Yang ada dalam tujuan hidupnya adalah kebutuhan duniawi. Manusia seperti itu tidak pernah menyadari bahwa hidupnya tidak lebih menyiksa dirinya sendiri. Hanya kelelahan yang akan ditemui di ujung perjalanan hidup yaitu kematian.
Manusia yang mengingkari fitrahnya maka terasa jiwanya kering dan kosong. Manusia seperti itu akan selalu merasa haus dan haus oleh duniawi. Yang ada dalam tujuan hidupnya adalah kebutuhan duniawi. Manusia seperti itu tidak pernah menyadari bahwa hidupnya tidak lebih menyiksa dirinya sendiri. Hanya kelelahan yang akan ditemui di ujung perjalanan hidup yaitu kematian.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui yang terbaik bagi hambanya. Jangan kita panik terhadap masalah yang timbul sehingga membuat kita seolah-olah berada ditengah terjangan badai kehidupan dan akhirnya dalam keputus asaan kita malah membenamkan diri kedalam jurang laut. Akankah kita lupakan Sang Pemilik alam ini ?
Disaat kondisi kritis dalam tekanan kehidupan sebagai seorang beriman seharusnya kita pasrahkan sepenuhnya pada keputusan Allah SWT. Letakkan masalah demi masalah kedalam bagian dari iman kita kepada Allah SWT. Berikan pemahaman yang mendasar pada ego kita agar mampu menyiasati diri pada sebuah rasa syukur. Karena kita tidak dapat menduga apa rencana Allah dibalik semua ini. Kita juga tidak tahu karena bisa jadi masalah yang timbul karena kelalaian kita dalam menjalankan syareat agama dan membiarkan iman dalam kesesatan. Dan itu diwujudkan kedalam sebuah permasalahan supaya kita menyadari kekeliruan dan segera memperbaiki iman. Selayaknya kita berbaik sangka bahwa semuanya terjadi pertanda Allah mencintai kita. Dan buktinya hanya kita yang dipercaya menerima masalah dan menyelesaikan secapatnya.
Jangan sekali-kali mengabaikan kasih sayang Allah melalui jalan yang tidak sesuai dengan hati kita dengan perilaku yang mengarah kekufuran., marah, mengumpat, sedih, bertindak anarkish sampai pada titik akhir putus asa dan menyakiti diri sendiri dengan bunuh diri. Na’udzubillah. Coba kita belajar menata hati sedikit demi sedikit. Memang tidak mudah tapi apa salahnya kalau kita mencoba kebaikan mulai sekarang. Mumpung kita masih diberi waktu menghirup oksigen. Dan semua organ didalam tubuh kita masih berfungsi. Bagaimana caranya ? Sederhana saja yaitu,” SABAR “.
Sabar adalah sebuah kata sederhana namun mampu membuat sipemilikjiwa lebih bisa menerima kenyataan walaupun kepahitan itu dipaksakan untuk menjadi manis agar lidah bisa menerima dan kalau udah sampai kedalam perut dan mengalirkan keseluruh tubuh maka kepahitan itu berubah menjadi kesehatan dan kekekalan jiwa yang hakiki. Subhanallah.
Sabar dalam menerima ujian, sabar dalam mengelolah hati dan jiwa,serta sabar dalam menerima segala keputusan Allah memang berat dan sulit. Landasan utama adalah IKHLAS. Seberat apapun ujian apabila kita mampu menerima dan menjalankan dengan penuh keikhlasan akan terasa ringan dan mudah. Sehingga kita tidak merasa terbebani ujian dalam menjalankan roda kehidupan ini. Melebur ego dan sedih menjadi sebuah ketulusan yang luas. Jangan membuat pembanding dan main hitung-hitungan kepada Allah seolah-olah kita sudah merasa menjadi seorang hamba yang beriman. Sehingga melalui kesempurnaan akal yang kita miliki lantas kita membuat eksperimen diluar kewajaran. Na’udzubillah!
Kita bersihkan jiwa dan hati kita dari penyakit hati. Karena tanpa kita sadari penyakit hati dapat menggerogoti seluruh organ kita. Dan harus kita waspadai sebagai bentuk pengamanan terhadap nilai keimanan kita kepada Allah adalah dengan menciptakan suatu pemahaman nilai keimanan dengan cara mengaplikasikan keadalam kehidupan kita sehari-hari dengan cara membuat management hati. Kalau kita ingin kehidupan kita bahagia dunia dan akherat kita buat Management Hati secara sederhana dan bisa dilakukan dengan cara :
1. Pusatkan pikiran kita sepenuhnya kepada Allah SWT.
2. Saat Masalah itu hadir terimalah dengan lapang dada dan jalani sekuat tenaga. Jangan pernah mengeluh kepada siapapun kecuali kepada Allah SWT.
3. Berusalah untuk selalu bersikap tenang dan sabar sambil mencari solusi / jalan keluarnya.
4. Jangan larut terlalu dalam pada satu masalah yang timbul, dan berilah kesempatan otak kita menikmati ketenangan agar bisa berfikir dengan jernih dalam mengambil sebuah keputusan.
5. Lupakan sebentar masalah dan ganti suasana menjadi sedikit lebih rileks sekedar meringankan beban pikiran.
6. Pada batas ketidakmampuan kita untuk menemukan jalan keluar carilah orang yang bisa dipercaya untuk diajak diskusi.
7. Berlakulah jujur dan sehat untuk penyelesaian masalah.
8. Hindari konflik seminimal mungkin apabila masalah yang timbul melibatkan orang lain.
9. Bersihkan diri dari segala penyakit hati diantaranya, marah / emosi yang berlebihan, dendam, putus asa dan banyak mengeluh. Karena sikap seperti itu pemicu penyakit hati kronis. Na’udzubillah.
10. Pasrahkan semuanya kepada Allah SWT pada ujung jiwa . Dan berbaik sangkalah kepada-NYA.
Semoga kita bisa menemukan kebahagiaan yang nyata kedalam kehidupan kita dan menyematkan kelubuk sanubari kita yang paling dalam. Semoga limpahan Rahmat Allah SWT senantiasa tercurah kepada kita semua. Amin.
Wallohu A’lam Bissowab.
Hitam, Putih atau Abu-abu
Mengukir bait demi bait hidup
Menggelayutkan memori yang tak berujung
Sepi, sunyi….mengukir kekosongan diri
Wajah-wajah lelah mengais sedikit harapan
Obsesi kehidupan,,,mengalahkan segalanya
Kebahagiaan yang tertunda…
Ataw kebahagiaan yang semu…
Ehmmm…
Semuanya seperti terhalang kabut hitam..
Pekat, dan sulit untuk diputihkan…
Sungguh…begitu keras hidup merongrong jiwa
Hanya yang kuat yang bertahan…
Bertahan dalam lingkaran hitam, putih atau abu-abu
Saatnya jiwa memilih…..
Hitam….apakah hidup dalam kegelapan dan kesesatan?
Putih…apakah hidup dalam kesucian dan kepastian?
Abu-Abu….apakah hidup dalam ketidakpastian dan keraguan?
Huft…..inilah lingkaran kehidupan
Berputar…mengikuti setiap porosya…
Keluar atau tetap bertahan…..
*********---------------*********
Inspirasi kecilqu --> Istie imut....
Kamis, 09 Februari 2012
"Sebuah catatan untuk Pendidikan Kita saat ini"
Catatan ini awalnya sebagai bahan tugas UAS penelitian Kualitatif qu,,,tapi setelah di simak baik-baik ternyata, banyak hal yang memang menjadi pemikiran terbaruqu..bahwa memang sistem pendidikan qt beggitu masih jauh dari yang qt harapkan semestinya..smoga catatan ini menjadi bahan refleksi qt..terutama yang berprofesi sebagai pengajar....
Banyak PR ke depan untuk anak-anak qt...smoga jerih payah qt mendidik anak-anak dapat menghasilkan sesuatu kebaikan untuk qt dan untuk kebaikan semuanya...Monggo di baca..semoga bermanfaat...^_^,,,
**********************************************************************************
Hasil UN adalah komoditas
Kecurangan dalam Ujian Nasional bukanlah hal baru. Meski Mendiknas sudah mengeluarkan banyak ancaman bagi yang curang, tetapi selalu ada cara untuk mengakali. Hal ini karena hasil Ujian Nasional bukanlah semata-mata sebagai evaluasi proses pembelajaran tetapi kini menjadi komoditas ekonomi dan politik.
Menjadi komoditas ekonomi karena apabila sebuah sekolah berhasil meluluskan 100 persen siswanya, maka dianggap sekolah berkualitas. Karena itu akan banyak siswa yang mendaftar ke sekolah tersebut artinya lebih banyak sumber dana yang diperoleh sekolah. Suka atau tidak suka, dunia pendidikan kini telah berubah menjadi bisnis yang menguntungkan. Tidak hanya bagi sekolah swasta, tetapi juga sekolah negeri.
Hasil Ujian Nasional juga merupakan komoditas politik bagi Kepala Daerah. Setiap daerah berlomba agar daerahnya mendapat nilai Ujian Nasional yang terbaik. Jika hasil UN menjadi terbaik maka Kelapa Daerah akan dianggap sukses membangun pendidikan di daerahnya. Begitupun sebaliknya, hasil UN jelek berarti aib bagi Kepala Daerah. Akhirnya kekuasaanpun bermain. Kepala Daerah menekan Kepala Dinas Pendidikan. Kepala Dinas menekan Kepala Sekolah. Kepala Sekolah menekan guru kelas. Guru Kelas menekan siswa. Siswalah akhirnya yang harus menanggung semuanya.
Demikian genting situasi UN hingga tidak bisa diremehkan begitu saja. Tak pelak lagi, muncullah tim sukses UN di sekolah yang terkoordinasi sampai tingkat kota/kabupaten. Dalam penjelajahan di dunia maya, saya menemukan bahwa ada tim sukses yang dibayar profesional bukan untuk mengajar ekstra siswa menghadapi UN. Akan tetapi membuat dan menjalankan skenario mengerjakan UN agar semua siswa bisa lulus meskipun dengan cara curang.
Kalau kita merujuk kepada pemikiran Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan tidak cukup hanya mengembangkan aspek intelektual saja, tetapi juga karsa dan rasa. Jika itu terjadi maka pendidikan hanya akan menghasilkan manusia yang tidak manusiawi.
Ki Hajar Dewantara mengajarkan bahwa guru hendaknya menjadi pinandita satria yaitu guru spiritual yang berjiwa ksatria, yang mempersiapkan diri dan peserta didik untuk melindungi bangsa dan negara. Bagi Ki Hajar Dewantara, para guru hendaknya menjadi pribadi yang memiliki kekuatan spiritual, baru menyiapkan diri dan peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Dengan demikian seorang guru utamanya harus menjadi teladan, baru kemudian menjadi pengajar.
Pendidikan harus mendidik anak menjadi manusia merdeka, begitu ajaran Ki Hajar Dewantara yang tercermin dalam tujuan pendidikan Taman Siswa. Manusia harus merdeka dari penjajahan secara fisik, mental dan pikiran. Namun kemerdekaan pribadi ini dibatasi oleh tertib damainya kehidupan bersama dan ini mendukung sikap-sikap seperti keselarasan, kekeluargaan, musyawarah, toleransi, kebersamaan, demokrasi, tanggungjawab dan disiplin.
-->Ada sebuah catatan dari dosenqu mengenai refleksi pendidikan qt terkait hal diatas yang begitu sangat kontrasnya....baca catatan di bawah ya..!!!
“Ketika Skor Tes Menjadi Komoditi: Refleksi terhadap
Praktik Penilaian Pendidikan 2011”
Oleh Syamsir Alam
Skor siswa pada ujian standar (high-stake examinations) di Amerika Serikat (AS) kedudukan dan perannya belakangan ini menjadi sangat berarti (matter most). Hasil ujian standar (skor tes) itu saat ini juga berpengaruh terhadap keberlangsungan karir guru ke depan. Skor tes siswa di beberapa negara bagian (states), AS sekarang dijadikan dasar untuk menentukan apakah seorang guru cukup layak untuk dipertahankan mengajar di suatu sekolah atau sebaliknya. Kebijakan itu tentunya sangat mempengaruhi kehidupan guru dan keluarganya. Berbagai kecaman dan aksi penolakan ditujukan pada pengendali kebijakan pendidikan. Pemerintah dituduh mendorong skor tes dijadikan sebagai komoditi ekonomi (monetizing student test scores). Skor tes dapat digunakan untuk merumahkan guru-guru yang dianggap gagal meningkatkan skor siswa pada ujian standar (state exams). Pemerintah juga dituduh berupaya untuk menyapih praktik ujian dari sebuah peristiwa pendidikan, dan menjadikannya sebagai instrumen transaksi ekonomi.
Indonesia sebenarnya juga sudah lama memperlakukan hasil ujian standar sebagai komoditi. Namun, berbeda dengan AS yang menjadikan hasil ujian siswa hanya sebagai “komoditi ekonomi,” Indonesia menggunakan skor tes sebagai komoditi ekonomi dan juga politik (pencitraan), yang biasanya digunakan pada pemilu atau pemilu kepala daerah.
Sejak diperkenalkannya konsep NCLB (No Child Left Behind) pada sistem pendidikan AS pada tahun 2002 lalu, sekolah-sekolah diberikan target minimal yang harus dicapai pada setiap ujian standar (state exams). Target pencapaian itu diukur dan direpresentasikan oleh skor siswa pada tes standar yang didesain di masing-masing negara bagian. Jadi setiap negara bagian mempunyai instrumen tes yang berbeda, tapi benchmark-nya mungkin relatif sama. Rata-rata skor perolehan untuk masing-masing mata pelajaran yang diujikan sudah ditentukan sebelumnya, dan setiap tahun rata-rata skor itu harus diupayakan bisa menjadi lebih baik (Yearly Adequate Progress). Masing-masing sekolah diberikan tenggat waktu untuk dapat mencapai target yang sudah ditetapkan, dan diharapkan pada 2014 seluruh sekolah sudah berada pada “benchmarking” nasional; namun apabila belum berhasil (gagal), sekolah-sekolah itu kemungkinannya hanya punya satu pilihan, yaitu ditutup, dan siswanya dipindahkan pada sekolah-sekolah yang baik (memenuhi standar/benchmark pemerintah federal/ pusat); akibatnya, guru-guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan lainnya pasti akan dapat kehilangan pekerjaan.
Skor tes dan komoditi
Di beberapa negara bagian (states), skor siswa pada ujian standar itu juga sudah mulai digunakan sebagai instrumen untuk mengevaluasi kinerja guru. Setiap tahun, kinerja guru dinilai berdasarkan skor tes siswa (value-added assessment model). Apabila skor siswa pada ujian standar selalu mengalami kemajuan/peningkatan maka guru akan dapat terus bekerja; sebaliknya bila skor siswa pada mata pelajaran yang diujikan terus mengalami penurunan selama kurun waktu tertentu, guru pengajar akan dikenakan sangsi pemecatan. Guru akan dapat terus mengajar atau sebaliknya diukur hanya dengan kriteria skor tes siswa pada ujian standar (high-stake examninations). Kebijakan ini mendorong terjadinya kontraversi dikalangan guru, organisasi profesi guru, dan masyarakat.
Hemm....setelah membaca hal di atas apa yang ada di benak kita??????.....
Langganan:
Komentar (Atom)